deltanews.co.id

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka memantau dan mengawal langsung persidangan terbuka kasus ibu Nuril di Pengadilan Negeri Mataram, Jl. Langko No.68A, Pejeruk, Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (24/05).

” Saya disini sedang berjuang untuk saudara kita Ibu Baiq Nuril (36 tahun). Mengabdi sebagai honorer di SMAN 7 Mataram, beliau ditahan sejak 27 Maret 2017 atas tuduhan melanggar UU No 19/2016 tentang ITE, pasal 27 ayat 1, junto pasal 45 ayat 1 dengan ancaman Pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 Miliar,” kata politisi PDI perjuangan tersebut kepada awak media.

Ibu Nuril diberhentikan dari pekerjaan, dipenjara dan harus mengalami persidangan karena dianggap mengungkap di media sosial indikasi tindak pelecehan seksual oleh atasannya, Kepala Sekolah. 

“Ibu Nuril dipenjara, sementara yang terindikasi kuat pelaku pelecehan seksual saat ini naik jabatan dari Kepala Sekolah menjadi Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram, kan itu dirasa perlu menegakan keadilan,” ucapnya.

Sementara BN (36 thn) adalah korban pelecehan seksual yang telah ditahan sejak 24 Maret 2017 dengan tuduhan dugaan mentransmisikan rekaman elektronik yang bermuatan kesusilaan sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat (1) jo Pasal 45 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurutnya, BN adalah korban pangkat dua. Dilecehkan dengan bahasa, ditahan (dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 Milyar), dan status kerja sebagai honorer minim perlindungan.

“Mari berikan dukungan kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mataram agar menangguhkan penahanan BN. Hari ini saya hadir langsung di PN Mataram menjadi penjamin BN,” terangnya.

Dengan banyaknya kejahatan seksual, maka Rieke mengharapkan bahwa RUU penghapusan kekerasan seksual untuk di sah kan.

Penulis : lilis

Tinggalkan Balasan