BEKASI – Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan kabupaten Bekasi, Drs. Abdul Karim mengatakan, para petani di Kabupaten Bekasi masih minim yang ikut serta dalam asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

“Kami sudah sosialisasi ke kelompok tani, namun belum direspon. Kendalanya karena kebanyakan para petani di Kabupaten Bekasi hanya sebagai penggarap,” kata Karim kepada deltanews.co.id, Jumat (25/3).

Namun demikian, pihaknya telah mencatat hanya sepuluh kelompok tani yang mendaftarkan lahannya. Dari kelompok tani itu pun, lahan yang diasuransikan hanya sebanyak 200 hektare dari 52.000 hektare lahan yang ada di Kabupaten Bekasi.

“Yang sudah ikut asuransi adalah mayoritas petani pemilik lahan, sepuluh kelompok tani tersebut berasal dari dua kecamatan dari total 13 kecamatan penghasil padi terbesar di Kabupaten Bekasi,” ujarnya.

Lanjut Karim, program asuransi tanaman padi ini sangat membantu para petani menekan risiko melalui klaim asuransi apabila terjadi gagal panen akibat dampak bencana alam.

“Sifatnya tidak wajib kepada petani, tetapi menguntungkan petani untuk mendapatkan klaim asuransi sebesar Rp7 juta dengan luas satu hektar,” katanya.

Adapun petani hanya wajib membayar premi Rp 35.000 per tahun, karena sisanya dibayar melalui subsidi Pemerintah Pusat sebesar Rp115 ribu per hektar dalam jangka waktu satu tahun.

“Jadi petani hanya membayar Rp 35 ribu per hektar per tahun, dua kali musim. Pengelolanya dari Jasindo yang dibawah kendali Kementerian Pertanian. Pendaftarannya bisa melalui Dinas Pertanian,” jelas Karim.

Karim menambahkan, para petani yang terkena dampak banjir pada 2016 telah mendapatkan klaim asuransi. “Ada 140 hektar lahan pertanian yang terkena banjir, itu di wilayah Utara,” katanya. (LIS)

Tinggalkan Balasan