BEKASI – Dewan Pimpinan Cabang Partai Solidaritas Indonesia (DPC PSI) Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat menilai, tindakan massa yang mendemo pembangunan Gereja Santa Clara di Jalan Raya Kaliabang, Bekasi Utara itu, salah alamat karena semua izinnya sudah lengkap dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

“Yang saya tahu, semua perizinan pembangunan Gereja Santa Clara sudah dikeluarkan Pemkot Bekasi, di depan gereja juga ada terdapat plang Izin Mendirikan Bangunan (IMB), saya juga sudah pernah mencek dan memang benar ada IMB-nya,” kata Ketua DPC PSI Bekasi Utara, Oloan Siahaan saat dihubungi melalui selulernya, Sabtu (25/3).

“Kalau mereka (massa-red) punya data bahwa pemberian izin pembangunan gereja ada yang tidak sesuai atau melanggar ketentuan. Ya, pertanyakan ke Wali Kota Bekasi, bila perlu gugat Wali Kotanya, jangan pilih dia 2018, jadi jangan tanya ke bangunan gereja Santa Clara karena bangunan itu benda mati. Jadi demo kemarin itu salah alamat,” sambung Oloan Siahaan.

Menurutnya, tindakan Polres Metro Bekasi Kota melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa pendemo yang anarkis, sudah sangat tepat, jika tidak anarkis semakin membesar.

“Sudah sangat tepat. Saya pikir Polri dalam hal ini Polres Bekasi Kota tidak melarang demo karena itu bagian dari demokrasi. Silakan orasi sekeras-kerasnya bila perlu orasi mereka terdengar sampai ke Tanjung Priok, tapi yang harus perlu diketahui pendemo, jangan sekali-kali bertindak anarkis sekecil apapun itu,” ujar pria yang akrab disapa Olo itu.

“Petugas Polres Bekasi Kota mengamankan agar para pendemo tidak sampai masuk ke area pembangunan gereja. Pengamanan itu dilakukan kan agar jangan sampai terjadi perusakan. Nah, saat itu massa mulai melempari petugas dengan botol air mineral, tanah hingga batu. Mereka (Polisi-red) kan bertugas bukan untuk dilempari, anarkis itu,” sambungnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polres Metro Bekasi Kota, Jawa Barat menembakan gas air mata guna meredakan kerusuhan saat demonstrasi untuk menolak pendirian tempat ibadah di Kecamatan Bekasi Utara, Jumat (24/3) siang.

Kerusuhan itu terjadi saat ratusan orang dari aliansi Majelis Silaturahim Umat Islam Kota Bekasi memaksa masuk ke area pendirian tempat ibadah di Jalan Raya Kaliabang, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara yang dijaga puluhan polisi.

Sekitar pukul 14.00 WIB, polisi melepas tembakan gas air mata ke arah demonstran karena massa mulai berlaku anarkis dengan melempar botol air mineral, batu, dan tanah ke arah polisi. Tembakan gas air mata berhasil meredam aksi anarkisme massa yang perlahan membubarkan diri dari lokasi pembangunan tempat ibadah yang berdiri di atas lahan 4.500 meter per segi.

“Gas air mata ini sesuai dengan standar operasional prosedur kepolisian mengantisipasi anarkisme,” kata Kasubag Humas Polrestro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing Andari.

Sementara itu, koordinator aksi unjuk rasa Kosim mengatakan sebanyak tiga demonstran mengalami luka akibat tertembak gas air dalam kericuhan itu. “Tiga orang dari Front Pembela Islam terluka. Kepalanya berdarah kena selongsong gas air mata polisi,” katanya.

Aksi demonstrasi itu dipicu adanya indikasi pelanggaran dalam proses perizinan pendirian tempat ibadah. Menurut Kosim, izin lingkungan tempat ibadah merujuk pada masyarakat di luar lokasi pendirian.

“Seharusnya izin lingkungan sesuai aturan diminta pada warga RW 11, tapi yayasan meminta pada RW06,” katanya.

Pemerintah Kota Bekasi telah mengeluarkan izin pendirian tempat ibadah tersebut bernomor 503/0535/1.B BPPT.2 pada 28 Juli 2015. Pengeluaran izin itu merujuk pada Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012 tentang pendirian tempat ibadah. (AMR)

Tinggalkan Balasan